Guru Sadar Profesi, Rajin Evaluasi Diri

Logo DDS

Fatmawati
Guru SD N 11 Ulakan Tapakis

Satria Dharma, dalam buku yang berjudul dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional mengatakan bahwa Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan ketika dimintai pendapat tentang perkembangan pendidikan Indonesia pernah berkata “Jangan terlalu ribut soal kurikulum dan sistemnya. Itu semua bukan apa-apa, justru pelaku – pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan“.

Sebagai mantan pendidik, beliau tentu sadar betul bahwa kualitas guru justru menjadi permasalah pokok pendidikan dimanapun. Baik itu di Indonesia, Jepang, Finlandia maupun AS. Dimanapun di dunia ini, kualitas pendidikan ditentukan oleh gurunya, bukan besarnya dana pendidikan dan hebatnya fasilitas sekolah tersebut.

Saya sangat setuju dengan pendapat Satria Dharma itu, karena hal ini terbukti di Finlandia. Negara yang donobatkan menjadi negara yang memiliki kualitas pendidikan terbaik di dunia. Di sana, profesi guru sangat dihargai meski gaji mereka tidaklah fantastis. Profesi guru adalah profesi yang sangat bergengsi dibanding profesi lainnya.

Guru-guru di negeri ini pun juga sangat menghargai potensi masing–masing siswa, mereka menganggap siswa adalah manusia cerdas yang harus diasah sesuai dengan potensi individunya. Jika ada siswa yang sulit memahami materi ajar, maka yang dipermasalahkan adalah cara mengajar sang guru yang dianggap kurang tepat. Sehingga setiap guru harus mengevaluasi cara mengajarnya di dalam kelas dan mesti bisa menyesuaikan dengan gaya belajar siswa.

Kita kaum guru harus terus-menerus mengevaluasi diri jika ingin peran kita sebagai tonggak pembentuk generasi bangsa berfungsi dengan baik. Kadang kita sering lupa untuk mengintrospeksi diri kita, “Apakah mengajar kita sudah membuahkan hasil yang maksimal? Apakah siswa kita sudah puas dengan pelayanan kita? Atau apalah pembelajaran yang kita sampaikan sudah dapat diterima dengan baik?

Hal ini terkesan sepele karena banyak di antara kita yang justru tidak menghiraukannya, padahal evaluasi dapat mengajar sangatlah krusial dalam PBM. Di sekolah, tugas guru bukan semata-mata untuk mengajar, menyampaikan materi sesuai dengan kurikulum dan mendisiplinkan siswa. Tetapi ada tugas guru yang lebih penting yaitu mendidik, menjadi orang tua kedua oleh siswa, selain orang tuanya di rumah. Peran lain yang juga tak kalah penting bagi guru bagi siswa adalah sebagai pendamping siswa, yang bisa menjadi teman curhat siswa. Bisa dikatakan peran guru bersifat ganda, kadang menjadi guru yang mendidik serta mengajar, di lain waktu bisa menjadi teman bagi siswa.

Bagi sebagian guru melakukan hal tersebut merupakan sesuatu yang memberatkan dan menambah pekerjaan, namun kalau kita bener-bener ingin jadi pendidik hal tersebut tidak membebani tetapi menjadi hal yang sangat menyenangkan. Karena hal tersebut juga menjadi referensi untuk kita dalam PBM dan juga tabungan guru di akhirat nanti.

Selama ini guru paling cepat menilai siswa, mencap si A dengan siswa bodoh, siswa B nakal, si C autis dan cap-cap jelek lainnya. Padahal tanpa kita sadari sebenarnya kita juga mendapat beragam penilaian dari anak didik kita, cuma bedanya mereka tidak mau menyampaikan langsung kepada kita, contohnya bapak A “pemarah”, ibu B “membosankan”, ibu si C “tidak pandai mengajar” dalan lain sebagainya, penilaian tersebut tidak salah, karena siswa pun juga mendapat cap yang jelek dari guru, bukankah guru kencing berdiri murid kencing berlari, mereka hanya meniru apa yang dilakukan oleh guru mereka.

Memang untuk menjadi guru bukanlah yang hal mudah, apalagi untuk memahami gaya masing–masing anak didik, karena dibutuhkan keterampilan dan seni tingkat tinggi. Betapa sulitnya meyakinkan guru bahwa setiap siswa punya gaya belajar masing–masing. Informasi akan masuk ke dalam otak siswa dan tidak terlupakan seumur hidup apabila informasi tersebut ditangkap berdasarkan gaya belajar yang sesuai dengan dirinya. Artinya, setiap guru harus mahir dengan strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Mesti kreatif.

Apabila paradigma ini benar-benar dipahami oleh guru, guru tidak akan mudah memberikan label siswa bodoh atau siswa tidak becus, sehingga evaluasi bagi penting bagi guru. Evaluasi atau intropeksi sangat penting bagi guru, baik evaluasi buat pembelajaran atau evaluasi diri guru tersebut.

Setiap tahun dan setiap dekade waktu watak siswa berubah-ubah sehingga guru harus memahaminya, belajar dari sebelumnya dan mencari solusi untuk permasalahan yang ada. Guru harus menyadari bahwa dia memiliki pekerjaan membangun dan melahirkan generasi-generasi yang mempunyai sumber daya manusia yang tinggi untuk kemajuan negara ini.

Ayo para guru, kita tinggal belajar untuk mengoreksi diri, terus belajar dan meniru guru-guru inspirasi baik didalam negeri maupun diluar negeri agat kita juga bisa menjadi guru-guru hebat untuk menyelamatkan bangsa melalui pendidikan berkualitas. (*)

Share Ping your blog, website, or RSS feed for Free

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>